Senin, 16 Mei 2011

masalah yang sering dihadapi dalam mengajar anak pra sekolah

Nabila Adani (10-073)
Nurul Adha Elliza (10-097)
Siti Jamilah (10-113)




PERENCANAAN

Topik: Ruang lingkup pendidikan usia pra sekolah
Judul: Masalah yang sering dihadapi dalam Mengajar Anak Pra Sekolah
1.1    Pendahaluan
Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulan terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya.           
Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah memiliki penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiriAnak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna. Oleh karena itu biasanya anak belum terampil, belum bisa melakukan kegiatan yang rumit walaupun kemampuan kognitif anak umumnya sudah berkembang.
Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman.  Anak TK cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Pada usia ini anak menjadi 'egosentris'. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut dan iri hati sering terjadi, di dalam kelas mereka seringkali memperebutkan perhatian guru. Dengan demikian pasti banyak masalah yang sering dihadapi guru dalam mengajar anak – anak pra sekolah di sekolah/kelas. Dan guru harus menghadapi anak – anak dengan sabar dan memiliki cara sendiri dalam menghadapi tingkah laku anak – anak pra sekolah tersebut.             
Oleh karena itu, kami memilih topik ini agar dapat mengetahui masalah yang sering dihadapi dalam mengajar anak pra sekolah. Karena pada masa ini anak sedang dalam tahap perkembangan yang sangat berpengaruh untuk pendidikannya agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Yang menjadi objek dalam penelitian kami ini adalah anak – anak pra sekolah itu sendiri dan guru di sekolah tersebut yang dapat diwawancarai sebagai subjeknya.

1.2    Landasan Teori
Teori piaget
Piaget meyakini bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam empat tahapan, yaitu:
·   Tahap sensorimotor (0-2 tahun)
Bayi membangun pemahaman dunia dengan mengoordinasikan pengalaman indrawi (sensory) seperti melihat dan mendengar dan tindakan fisik. Bayi melangkah maju dari tindakan instingtual dan refleksi saat baru saja lahir ke pemikiran simbolis menjelang akhir tahap ini. Menurut piaget bayi tidak dapat membedakan antara dirinya dan dunianya dan tidak punya pemahaman tentang kepermanenan objek.
·   Tahap pra-operasional (2-7 tahun)
Anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata dan gambar. Kata dan gambar ini merefleksikan peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui koneksi informasi indrawi dan tindakan fisik. Tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap pra-opersional bisa dibagi lagi menjadi menjadi 2 subtahap:
o    Subtahap fungsi simbolis:
Perkembangan ini terjadi diantara 2-4 tahun, berkembangnya kemampuan untuk merepresentasikan objek yang tidak hadir dan meningkatnya pemikiran simbolis, muncul egosentrisme dan animisme.
o    Subtahap pemikiran intuitif
Perkembangan ini terjadi antara 4-7 tahun, anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan.
·   Tahap opersional konkret (7-11 tahun)
Anak kini bisa bernalar secara logis tentang kejadian-kejadian konkret dan mampu mengklasifikasikan objek kedalam kelompok yang berbeda-beda.
·   Tahap operasional formal (11- dewasa)
Remaja berpikir secara lebih abstrak, idealistis, dan logis. Kualitas abstrak dari pemikiran operasional formal tampak jelas dalam pemecahan problem verbal. Dalam tahap operasional formal, anak sudah mulai dapat mengerti hal yang abstrak walaupun hanya disajikan secara verbal. Pemikir operasional formal mempunyai kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan - kemungkinan.
Mengapa anak umur pra sekolah keras kepala dan sulit diatur?
Menurut Piaget, tahapan perkembangan anak pada usia dini adalah tahap pra-operasional (usia 2 – 7 tahun). Pada usia ini anak menjadi 'egosentris', sehingga berkesan 'pelit', karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain dan anak lebih bersifat intuitif ketimbang logis. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 2 – 5 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis dan rumit sehingga mereka memikirkan sesuatu hanya dari sudut pandang dari mereka saja. Dengan demikian, pada tahap ini anak memang sulit untuk diatur karena sifat egosentrisnya yang kuat dan pandangan mereka berbeda dengan apa yang dipikirkan orang lain karena mereka belum mengerti cara berpikir.

1.3    Alat dan Bahan:
Alat yang digunakan untuk membantu proses pengumpulan data adalah alat perekam proses pelaksaan penelitian seperti alat tulis, perekam audio, ataupun kamera.

1.4    Analisa data:
Hasil dari wawancara yang didapatkan dari beberapa subjek kami analisis terlebih dahulu dengan meringkas, setelah itu kami mencari jawaban dari pertanyaan kami di dalam topik ini. Kemudian, kami menarik kesimpulan yang dapat menjawab permasalahan dalam topik kami ini.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              
1.5    Objek dan Subjek:
Objek dalam penelitian ini adalah anak – anak pra sekolah yang sedang dididik di lembaga pendidikan.
Subjeknya adalah guru yang mengajarkan anak – anak di sekolah dan sering menghadapi masalah yang terjadi dengan anak – anak selama masa pendidikan.
Lokasi penelitian kami lakukan di playgroup terkemuka di kota Medan, yaitu:
·         TK IKAL: Jl. Gaperta No.18, Helvetia, MEDAN
·         Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini Walidayna: Jl. PLTGU No. 73 A Komplek PLN Paya Pasir, Marelan, MEDAN 20255
·         TK Play Group Star Kids School Kindergarten & Preschool:
Jl. Dr Mansyur No.158, MEDAN 20153

1.6    Jadwal pelaksanaan

“Time Table”
No
Hari dan tanggal
Jam
Jenis Kegiatan
1.
Jum’at,  28 April 2011
09.00
Wawancara dengan guru di TK pertama: TK IKAL
2.
Jum’at,  28 April 2011
10.00
Observasi TK yang lain, sebagai objek selanjutnya
3.
Rabu, 4 Mei 2011
08.30
Wawancara dengan guru di TK yang kedua: Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini Walidayna
4.
Rabu, 4 Mei 2011
12.00
Wawancara dengan guru di TK yang ketiga: TK Play Group Star Kids
5.
Sabtu, 8 Mei 2011
16.00
Menyusun data yang telah didapatkan
6.
Senin, 16 Mei 2011
09.00
Membuat pelaporan dan evaluasi


1.7    Kalkulasi Biaya

Pengeluaran Dana
No.
Pengeluaran
Harga satuan
Banyak
Jumlah
1.
Note Book
Rp 6.500
3
Rp 19.500
2.
Transportasi
Rp 4.500
2
 Rp   9.000
             Jumlah =                                                                   Rp 28.500
                                                                                                                       
   Pemasukan Dana
Subsidi setiap anggota @ Rp 10.000 = 3 x 10.000 = Rp 30.000


PELAKSANAAN

Pertama kami menentukan topik penelitian kami, dan jadinya kami meneliti tentang pendidikan anak usia dini, kami mewawancari gurunya untuk mengetahui bagaimana mereka mengajar, cara mengatasi anak – anak.                                                                                   
Sebelum kami melakukan wawancara terhadap penelitian ini, kami terlebih dahulu membuat perencanaan agar lebih mudah dalam melakukan pelaksanaan penelitian ini. 
 Kami meneliti 3 taman kanak-kanak. Pertama TK IKAL, disana kami menemui kendala karena kami tidak memiliki surat izin meneliti, setelah beberapa menit kami mengobrol dengan kepala sekolahnya akhirnya kami diberi izin untuk meneliti. Kami mendapatkan informasi lebih dari yang kami perkirakan.
Setelah dari TK IKAL kami mencoba untuk mengobservasi sekolah – sekolah lain yang menjadi target penelitian kami selanjutnya. Karena surat izin yang sebagai persyaratan belum kami penuhi, maka kami membuat surat izin terlebih dahulu dan akan melanjutkan wawancara – wawancara ke sekolah lain di minggu depan.
Setelah surat izin yang kami urus sudah keluar dari kampus, kami mendatangi sekolah selanjutnya, yaitu Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini Walidayna. Disana kami mendapatkan banyak informasi, bahkan informasi yang lebih banyak dari taman kanak – kanak yang sebelumnya. Dan pada hari itu juga kami ingin menyelesaikan pelaksanaan wawancara kami, kami ke sekolah terakhir, yaitu TK Play Group Star Kids. Disana kami mendapatkan informasi yang sama sepert sekolah – sekolah sebelumnya dan dokumentasi yang kami dapatkan pun hanya sedikit karena anak – anaknya sedang di dalam kelas. 
Setelah pelaksanaan selesai, kami menganalisa yang kami dapatkan dari hasil wawancara – wawancara yang kami lakukan untuk mendapatkan jawaban dari masalah yang ada dalam topik kami ini. Dan kami membuat laporan kemudian membuat poster dari hasil penelitian kami.


PELAPORAN DAN EVALUASI

3.1 Laporan
Dalam mengajar anak usia dini (pra sekolah) terdapat kendala-kendala yang dihadapi pengajar:
·         Anak mengalami kesulitan dalam memperhatikan untuk jangka waktu yang berbeda ketika berada di sekolah atau di kelas à bagaimana guru dapat mempertahankan perhatian anak.
·         Anak-anak pra sekolah biasanya baru untuk belajar membaca dan menulis,terbatas dalam kemampuan berhitung à mengajar jadi sulit à anak sering bergantung pada guru dan membuat guru harus memusatkan perhatian padanya.
·         Rata-rata anak bersikap moody untuk memulai kegiatan yang diajarkan à guru harus membujuk sampai anak mau untuk memulai kegiatan pembelajaran.
·         Anak yang pemalu dan penakut, anak yang sulit dalam kemampuan bicara juga seperti celat sulit untuk diajak berkomunikasi à guru harus sabar dan pelan – pelan dalam mengajari anak – anak agar dapat membuat anak tetap belajar.  

3.2  Evaluasi
Review dari perencanaan yang telah dirancang dibandingkan dengan pelaksanaan yang telah berlangsung hingga proses evaluasi.
Perencanaan kami buat sebelum pelaksanaan penelitian, dalam pelaksanaan ada yang tidak memenuhi perencanaan, seperti:
-    Sekolah yang menjadi subjek penelitian. TK yang bertaraf internasional untuk mendapatkan izin melakukan penelitiannya harus melalui proses yang panjang. Oleh karena itu kami mengganti dengan subjek yang lebih dapat dijangkau.
-    Pelaksanaan wawancara yang seharusnya dilakukan dalam waktu 2 hari berturut – turut menjadi terhambat karena proses pembuatan surat izin ke sekolah.
Selebih dari itu, semua pelaksanaan hingga proses evaluasi dan pelaporan sesuai dengan perencanaan yang dibuat.

3.3 Poster

3.4 Testimoni
“Pembuatan proyek ini merupakan pengalaman pertama dalam penelitian kami yang memerlukan banyak waktu dan banyak tenaga. Banyak pengalaman – pengalaman yang kami rasakan dan beberapa kendala yang telah dihadapi. Setelah melewati tahapan – tahapan dalam proyek ini, tugas ini terselesaikan juga walaupun terdapat banyak kekurangan namun hasilnya memuaskan bagi kami. Dan semoga proyek ini dapat menambah wawasan dan pengalaman yang bermanfaat untuk ke depannya.
Nabila: Pengalaman mewawancarai guru TK itu menyenangkan, awalnya saya berpikir kalau anak – anak  TK kalau jumpa sama orang asing gak mau ngomong. Eh, ternyata mereka banyak kali ceritanya,, lucu-lucu.
Nurul: Dengan melakukan wawancara – wawancara terhadap guru TK, dapat mengetahui beragam karakter anak – anak pra sekolah dan mengetahui cara guru menangani anak – anak pra sekolah.
Jamilah: Pengalaman pertama melakukan penelitian, melakukan wawancara di tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya menjadi kendala karena gak kenal dengan lingkungannya. Tetapi, bisa mendapatkan wawasan baru tentang anak pra sekolah.
Dokumentasi:

DAFTAR PUSTAKA
Santtrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta
duniapsikologi.dagdigdug.com 

Selasa, 03 Mei 2011

Variasi dalam belajar

Hari ini sebelum memulai untuk belajar mata kuliah psikologi pendidikan,bu Dina meminta kami untuk bangkit dari kursi,lalu berkumpul di belakang membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan.
Kami di instruksikan untuk bergerak kedepan,kebelakang,kekanan,lalu tekuk,sambil diikuti musik sewaktu masa kanak-kanak dulu yaitu lagu becak.
Kegiatan ini membuat saya tertawa,karena mengingatkan saya sewaktu TK dulu.Hal ini membuat saya lebih relax dan merasa senang,karena kegiatan ini saya merasa tidak terlalu tegang untuk memulai pelajaran pada pagi tadi.
Baru kali ini saya menemukan dosen yang mau membuat variasi yang menarik sebelum memulai pembelajaran.
 ^_^

Senin, 25 April 2011

Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah

Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut setidaknya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.Sedangkan pada psikologi sekolah tidak jauh beda dengan psikologi pendidikan,karena psikolog sekolah ini merupakan orang yang menerapkan ilmu-ilmu psikologi pendidikan kedalam sekolah,untuk mencapai tujuan yang sama.
Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/psikologi-pendidikan-dan-guru/

Selasa, 12 April 2011

Mengapa Anak Mengalami Ketidakmampuan Belajar ?

Konsep umum gangguan atau ketidakmampuan belajar mencakup problem dalam kemampuan mendengar,berkonsentrasi,berbicara,berpikir,memori,membaca,menulis dan mengeja,atau keterampilan social (Kamphaus,2000).
Persentase anak yang digolongkan menderita gangguan belajar semakin meningkat.Hal ini dikarenakan guru terkadang terlalu cepat mencap anak yang mengalami sedikit gangguan belajar sebagai anak yang mempunyai masalah ketidakmampuan belajar,padahal gangguan itu barangkali disebabkan oleh ketidakefektifan guru dalam mengajar,bahasa tulis,dan matematika ,(Hallahan & Kauffman,2000;Lerner,2000).
Anak yang menderita gangguan belajar sering kali sulit menulis dengan tangan,mengeja atau menyusun kalimat.Mereka kadang menulis dengan sangat lambat,tulisan mereka jelek dan banyak kesalahan dalam ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk menyesuaikan huruf dengan bunyinya.
Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami masalah dalam belajar ini adalah tugas sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik.

Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta

Rabu, 06 April 2011

Diskusi tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia

Nabila Adani (10-073)
Nurul Adha Elliza (10-097)
Siti Jamilah (10-113)


Coba cari fakta tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia yang tidak terlepas dari hal keluarga dan lingkungan melalui jurnal2 di internet  minimal 3 fenomena, kemudian bahas dengan minimal 1 teori psikologi pendidikan, 1 teori psikologi  keluarga dan 1 teori bimbingan sekolah

Fenomena pertama tentang sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang ada di Indonesia bersifat mencetak" manusia penurut", buktinya:
1. Adanya Penyeragaman
2. Mau "muncul" tetapi dikekang oleh adanya Kurikulum
3. Mau "lari" tetapi dikekang oleh adanya penjadwalan yang ketat
4. Model belajar "menghafal" dan "mengulang"

Karena sistem pendidikan ini, dampak yang akan terjadi terhadap murid adalah:
1. Hilangnya kemampuan kognitif dari anak
2. Kreativitas siswa berkurang
3. Talenta siswa banyak yang tidak diketahui (selain belajar)

Manusia penurut ini maksudnya sistem pembelajaran di sekolah menjadi hanya bergantung pada kurikulum saja, sedangkan seharusnya lebih bisa berkembang lagi pemikirannya tidak harus mengikuti kurikulum walaupun kurikulum sangat penting sebagai batasan atau standardisasi dalam sistem pendidikan.

William James dan John Dewey mencetuskan sistem konstruktivisme, sistem yang menekankan agar individu secara aktif membangun pemahaman dan pengetahuan. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekadar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Namun, guru juga harus tetap mengontrol anak-anak agar mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan hasil yang baik dan dapat meraih prestasi.
Dengan sistem kontruktivisme ini, guru dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam hal yang dikuasainya dengan standardisasi kurikulum yang telah ditetapkan. Jadi, anakpun akan memiliki kemampuan kognitif yang lebih meningkat dan akan tampak talenta anak – anak tersebut.

Fenomena kedua tentang fakta psikologi pendidikan di sekolah. Ini tentang pengajar, guru adalah seseorang yang biasanya ditiru oleh murid. Tapi faktanya ada guru yang terlambat masuk kelas dan terkadang keluar kelas sebelum bel, bahkan ada juga guru yang menunda untuk menjawab pertanyaan murid yang dapat membuat pandangan murid buruk terhadap guru tersebut atau dapat menjatuhkan nama guru tersebut dan menganggap gurunya kurang mampu.
Menurut  survei nasional terhadap murid berusia antara 13 sampai 17 tahun tentang karakter penting yang harus dipunyai oleh seorang guru dalam buku psikologi pendidikan, Santrok.

Karakteristik 

·
         Membuat kelas menjadi menarik                            
·
         Menguasai mata  
·         Punya selera humor                                                                                                                             ·         Menerangkan secara jelas                                       
·
         Mau meluangkan waktu untuk membantu murid       
·
         Bersikap adil kepada murid                                       
·
         Memperlakukan murid seperti orang dewasa        
·
         Berhubungan baik dengan murid                            
·
         Memperhatikan perasaan murid                            
·
         Tidak pilih kasih                        
Oleh karena itu, seharusnya guru sebagai pengajar harus dapat menjadi contoh untuk muridnya, agar dapat menjadikan murid – muridnya berprilaku yang baik, guru seharusnya mengajarkan muridnya agar menjadi disiplin, dan muridpun mau menerapkan kebiasaan yang dilakukan guru. Dan harus bisa menguasai dan mengontrol keadaan kelas seperti yang diharapkan murid – muridnya.

Ketiga, fenomena psikologi pendidikan yang tidak terlepas dari keluarga. Tidak jarang fenomena pada anak yang berasal dari keluarga broken home terganggu prestasinya di sekolah terjadi, kemungkinan hanya 20:1 anak yang dapat mengontrol sekolahnya dan dapat menyeimbangkan psikologisnya agar tidak terganggu oleh keadaan yang terjadi di rumah.
Peran guru di sekolah sebagai pemerhati prestasi murid seharusnya lebih besar dalam memperhatikan prestasi murid yang diketahui sebagai  “korban” broken home, share yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana suasana hati muridnya pun juga berperan penting agar lebih membantu murid tersebut dalam mengatasi perasaan yang dialaminya saat berada di rumah dengan keadaan yang tidak nyaman.

Daftar Pustaka

Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta 
http://sukrablog.blogspot.com/
http://fkmmj.wordpress.com/

Senin, 14 Maret 2011

Proyek Spektrum ?

ini adalah usaha inovatif yang dilakukan oleh Gardner (1993;Gardner, Feldman & Krechevsky,1998)untuk menguji delapan inteligensi anak-anak.
Proyek ini diawali dengan ide dasar bahwa setiap murid punya potensi untuk mengembangkan kekuatan di satu atau dua area.
Ada juga kelas spektrum,kelas ini memiliki banyak materi yang dapat menstimulasi berbagai inteligensi.
Kelas spektrum juga dapat menggungkapkan keahlian yang biasanya tidak tampak dalam kelas reguler.Dalam kelas Spektrum grade satu,ada seorang anak yang besar dari keluarga yang penuh konflik dan terancam gagal dalam studinya. Ketika Proyek Spektrum dilakukan, anak ini ternyata sangat bagus dalam memilah dan mengelompokkan objek, seperti sendok atau kunci pintu. Gurunya senang ketika tahu anak itu punya keahlian dibidang ini, dan seluruh kinerja si anak pelan-pelan mulai meningkat.

Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta

Testimoni terhadap perkuliahan 8 Maret 2011 dan Pandangan tentang materi yang disampaikan

Perkuliahan Psikologi Pendidikan ke- 7 tentang “Proses kognitif, motivasi dan tujuan instruksional”
Di awal pertemuan, bu dina memperkenalkan kepada kami tentang Johari Window atau sering disebut dengan Jendela Johari, yaitu merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita seseorang. Model ini diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 yang berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
Kemudian bu dina memberi konstruksi agar masing – masing dari kami berkumpul dengan teman sekelompok dan masing – masing dari kami menilai sifat – sifat teman Disini,kami menghubungkan teori kognitif Vygotsky. Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygtsky: (1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara development, (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi dengan alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental, dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Menurut saya, menggunakan pendekatan developmental berarti melihat sifat pada awal bertemu yang kemudian ada sifat – sifat lain yang berkembang setelah lama berteman bersama.
Klaim kedua, yakni melihat dari bahasanya, cara berbicara dan kata – kata yang digunakan. Sifat- sifat seseorang bisa dinilai dari cara mereka mereka berbicara, kata – kata dan bahasa yang mereka gunakan.
Dan yang ketiga, bahwa sifat – sifat seseorang berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Dari sosialisasi yang dilakukan seseorang kita bias melihat bagaimana sifatnya, apakah seorang yang tertutup atau terbuka di lingkungan dan sifat seseorang itu dipengaruhi juga oleh latar belakang sosiokultural ataupun dari budayanya. Budaya di rumah dan suku atau keturunan akan terbawa ke dalam sifat seseorang. Dan sifat seseorang dapat mencerminkan budaya orang itu pula.