Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut setidaknya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.Sedangkan pada psikologi sekolah tidak jauh beda dengan psikologi pendidikan,karena psikolog sekolah ini merupakan orang yang menerapkan ilmu-ilmu psikologi pendidikan kedalam sekolah,untuk mencapai tujuan yang sama.
Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/psikologi-pendidikan-dan-guru/
Senin, 25 April 2011
Selasa, 12 April 2011
Mengapa Anak Mengalami Ketidakmampuan Belajar ?
Konsep umum gangguan atau ketidakmampuan belajar mencakup problem dalam kemampuan mendengar,berkonsentrasi,berbicara,berpikir,memori,membaca,menulis dan mengeja,atau keterampilan social (Kamphaus,2000).
Persentase anak yang digolongkan menderita gangguan belajar semakin meningkat.Hal ini dikarenakan guru terkadang terlalu cepat mencap anak yang mengalami sedikit gangguan belajar sebagai anak yang mempunyai masalah ketidakmampuan belajar,padahal gangguan itu barangkali disebabkan oleh ketidakefektifan guru dalam mengajar,bahasa tulis,dan matematika ,(Hallahan & Kauffman,2000;Lerner,2000).
Anak yang menderita gangguan belajar sering kali sulit menulis dengan tangan,mengeja atau menyusun kalimat.Mereka kadang menulis dengan sangat lambat,tulisan mereka jelek dan banyak kesalahan dalam ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk menyesuaikan huruf dengan bunyinya.
Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami masalah dalam belajar ini adalah tugas sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik.
Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Persentase anak yang digolongkan menderita gangguan belajar semakin meningkat.Hal ini dikarenakan guru terkadang terlalu cepat mencap anak yang mengalami sedikit gangguan belajar sebagai anak yang mempunyai masalah ketidakmampuan belajar,padahal gangguan itu barangkali disebabkan oleh ketidakefektifan guru dalam mengajar,bahasa tulis,dan matematika ,(Hallahan & Kauffman,2000;Lerner,2000).
Anak yang menderita gangguan belajar sering kali sulit menulis dengan tangan,mengeja atau menyusun kalimat.Mereka kadang menulis dengan sangat lambat,tulisan mereka jelek dan banyak kesalahan dalam ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk menyesuaikan huruf dengan bunyinya.
Meningkatkan kemampuan anak yang mengalami masalah dalam belajar ini adalah tugas sulit dan umumnya membutuhkan intervensi intensif agar mereka mampu memberikan hasil yang baik.
Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Rabu, 06 April 2011
Diskusi tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia
Nabila Adani (10-073)
Nurul Adha Elliza (10-097)
Siti Jamilah (10-113)
Coba cari fakta tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia yang tidak terlepas dari hal keluarga dan lingkungan melalui jurnal2 di internet minimal 3 fenomena, kemudian bahas dengan minimal 1 teori psikologi pendidikan, 1 teori psikologi keluarga dan 1 teori bimbingan sekolah
Nurul Adha Elliza (10-097)
Siti Jamilah (10-113)
Coba cari fakta tentang fenomena pendidikan di sekolah yang ada di Indonesia yang tidak terlepas dari hal keluarga dan lingkungan melalui jurnal2 di internet minimal 3 fenomena, kemudian bahas dengan minimal 1 teori psikologi pendidikan, 1 teori psikologi keluarga dan 1 teori bimbingan sekolah
Fenomena pertama tentang sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang ada di Indonesia bersifat mencetak" manusia penurut", buktinya:
1. Adanya Penyeragaman
2. Mau "muncul" tetapi dikekang oleh adanya Kurikulum
3. Mau "lari" tetapi dikekang oleh adanya penjadwalan yang ketat
4. Model belajar "menghafal" dan "mengulang"
2. Mau "muncul" tetapi dikekang oleh adanya Kurikulum
3. Mau "lari" tetapi dikekang oleh adanya penjadwalan yang ketat
4. Model belajar "menghafal" dan "mengulang"
Karena sistem pendidikan ini, dampak yang akan terjadi terhadap murid adalah:
1. Hilangnya kemampuan kognitif dari anak
2. Kreativitas siswa berkurang
3. Talenta siswa banyak yang tidak diketahui (selain belajar)
1. Hilangnya kemampuan kognitif dari anak
2. Kreativitas siswa berkurang
3. Talenta siswa banyak yang tidak diketahui (selain belajar)
Manusia penurut ini maksudnya sistem pembelajaran di sekolah menjadi hanya bergantung pada kurikulum saja, sedangkan seharusnya lebih bisa berkembang lagi pemikirannya tidak harus mengikuti kurikulum walaupun kurikulum sangat penting sebagai batasan atau standardisasi dalam sistem pendidikan.
William James dan John Dewey mencetuskan sistem konstruktivisme, sistem yang menekankan agar individu secara aktif membangun pemahaman dan pengetahuan. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekadar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Namun, guru juga harus tetap mengontrol anak-anak agar mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan hasil yang baik dan dapat meraih prestasi.
Dengan sistem kontruktivisme ini, guru dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam hal yang dikuasainya dengan standardisasi kurikulum yang telah ditetapkan. Jadi, anakpun akan memiliki kemampuan kognitif yang lebih meningkat dan akan tampak talenta anak – anak tersebut.
Fenomena kedua tentang fakta psikologi pendidikan di sekolah. Ini tentang pengajar, guru adalah seseorang yang biasanya ditiru oleh murid. Tapi faktanya ada guru yang terlambat masuk kelas dan terkadang keluar kelas sebelum bel, bahkan ada juga guru yang menunda untuk menjawab pertanyaan murid yang dapat membuat pandangan murid buruk terhadap guru tersebut atau dapat menjatuhkan nama guru tersebut dan menganggap gurunya kurang mampu.
Menurut survei nasional terhadap murid berusia antara 13 sampai 17 tahun tentang karakter penting yang harus dipunyai oleh seorang guru dalam buku psikologi pendidikan, Santrok.
Karakteristik
· Membuat kelas menjadi menarik
· Menguasai mata
· Punya selera humor · Menerangkan secara jelas
· Mau meluangkan waktu untuk membantu murid
· Bersikap adil kepada murid
· Memperlakukan murid seperti orang dewasa
· Berhubungan baik dengan murid
· Memperhatikan perasaan murid
· Tidak pilih kasih
· Membuat kelas menjadi menarik
· Menguasai mata
· Punya selera humor · Menerangkan secara jelas
· Mau meluangkan waktu untuk membantu murid
· Bersikap adil kepada murid
· Memperlakukan murid seperti orang dewasa
· Berhubungan baik dengan murid
· Memperhatikan perasaan murid
· Tidak pilih kasih
Oleh karena itu, seharusnya guru sebagai pengajar harus dapat menjadi contoh untuk muridnya, agar dapat menjadikan murid – muridnya berprilaku yang baik, guru seharusnya mengajarkan muridnya agar menjadi disiplin, dan muridpun mau menerapkan kebiasaan yang dilakukan guru. Dan harus bisa menguasai dan mengontrol keadaan kelas seperti yang diharapkan murid – muridnya.
Ketiga, fenomena psikologi pendidikan yang tidak terlepas dari keluarga. Tidak jarang fenomena pada anak yang berasal dari keluarga broken home terganggu prestasinya di sekolah terjadi, kemungkinan hanya 20:1 anak yang dapat mengontrol sekolahnya dan dapat menyeimbangkan psikologisnya agar tidak terganggu oleh keadaan yang terjadi di rumah.
Peran guru di sekolah sebagai pemerhati prestasi murid seharusnya lebih besar dalam memperhatikan prestasi murid yang diketahui sebagai “korban” broken home, share yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana suasana hati muridnya pun juga berperan penting agar lebih membantu murid tersebut dalam mengatasi perasaan yang dialaminya saat berada di rumah dengan keadaan yang tidak nyaman.
Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta
http://sukrablog.blogspot.com/
http://fkmmj.wordpress.com/
http://fkmmj.wordpress.com/
Senin, 14 Maret 2011
Proyek Spektrum ?
ini adalah usaha inovatif yang dilakukan oleh Gardner (1993;Gardner, Feldman & Krechevsky,1998)untuk menguji delapan inteligensi anak-anak.
Proyek ini diawali dengan ide dasar bahwa setiap murid punya potensi untuk mengembangkan kekuatan di satu atau dua area.
Ada juga kelas spektrum,kelas ini memiliki banyak materi yang dapat menstimulasi berbagai inteligensi.
Kelas spektrum juga dapat menggungkapkan keahlian yang biasanya tidak tampak dalam kelas reguler.Dalam kelas Spektrum grade satu,ada seorang anak yang besar dari keluarga yang penuh konflik dan terancam gagal dalam studinya. Ketika Proyek Spektrum dilakukan, anak ini ternyata sangat bagus dalam memilah dan mengelompokkan objek, seperti sendok atau kunci pintu. Gurunya senang ketika tahu anak itu punya keahlian dibidang ini, dan seluruh kinerja si anak pelan-pelan mulai meningkat.
Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Proyek ini diawali dengan ide dasar bahwa setiap murid punya potensi untuk mengembangkan kekuatan di satu atau dua area.
Ada juga kelas spektrum,kelas ini memiliki banyak materi yang dapat menstimulasi berbagai inteligensi.
Kelas spektrum juga dapat menggungkapkan keahlian yang biasanya tidak tampak dalam kelas reguler.Dalam kelas Spektrum grade satu,ada seorang anak yang besar dari keluarga yang penuh konflik dan terancam gagal dalam studinya. Ketika Proyek Spektrum dilakukan, anak ini ternyata sangat bagus dalam memilah dan mengelompokkan objek, seperti sendok atau kunci pintu. Gurunya senang ketika tahu anak itu punya keahlian dibidang ini, dan seluruh kinerja si anak pelan-pelan mulai meningkat.
Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Testimoni terhadap perkuliahan 8 Maret 2011 dan Pandangan tentang materi yang disampaikan
Perkuliahan Psikologi Pendidikan ke- 7 tentang “Proses kognitif, motivasi dan tujuan instruksional”
Di awal pertemuan, bu dina memperkenalkan kepada kami tentang Johari Window atau sering disebut dengan Jendela Johari, yaitu merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita seseorang. Model ini diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 yang berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
Kemudian bu dina memberi konstruksi agar masing – masing dari kami berkumpul dengan teman sekelompok dan masing – masing dari kami menilai sifat – sifat teman Disini,kami menghubungkan teori kognitif Vygotsky. Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygtsky: (1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara development, (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi dengan alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental, dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Menurut saya, menggunakan pendekatan developmental berarti melihat sifat pada awal bertemu yang kemudian ada sifat – sifat lain yang berkembang setelah lama berteman bersama.
Klaim kedua, yakni melihat dari bahasanya, cara berbicara dan kata – kata yang digunakan. Sifat- sifat seseorang bisa dinilai dari cara mereka mereka berbicara, kata – kata dan bahasa yang mereka gunakan.
Dan yang ketiga, bahwa sifat – sifat seseorang berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Dari sosialisasi yang dilakukan seseorang kita bias melihat bagaimana sifatnya, apakah seorang yang tertutup atau terbuka di lingkungan dan sifat seseorang itu dipengaruhi juga oleh latar belakang sosiokultural ataupun dari budayanya. Budaya di rumah dan suku atau keturunan akan terbawa ke dalam sifat seseorang. Dan sifat seseorang dapat mencerminkan budaya orang itu pula.
Di awal pertemuan, bu dina memperkenalkan kepada kami tentang Johari Window atau sering disebut dengan Jendela Johari, yaitu merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif kita seseorang. Model ini diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 yang berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
Kemudian bu dina memberi konstruksi agar masing – masing dari kami berkumpul dengan teman sekelompok dan masing – masing dari kami menilai sifat – sifat teman Disini,kami menghubungkan teori kognitif Vygotsky. Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygtsky: (1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara development, (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi dengan alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental, dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Menurut saya, menggunakan pendekatan developmental berarti melihat sifat pada awal bertemu yang kemudian ada sifat – sifat lain yang berkembang setelah lama berteman bersama.
Klaim kedua, yakni melihat dari bahasanya, cara berbicara dan kata – kata yang digunakan. Sifat- sifat seseorang bisa dinilai dari cara mereka mereka berbicara, kata – kata dan bahasa yang mereka gunakan.
Dan yang ketiga, bahwa sifat – sifat seseorang berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Dari sosialisasi yang dilakukan seseorang kita bias melihat bagaimana sifatnya, apakah seorang yang tertutup atau terbuka di lingkungan dan sifat seseorang itu dipengaruhi juga oleh latar belakang sosiokultural ataupun dari budayanya. Budaya di rumah dan suku atau keturunan akan terbawa ke dalam sifat seseorang. Dan sifat seseorang dapat mencerminkan budaya orang itu pula.
Krim Creambath Home Made
Krim Alpukat
Manfaat: mengatasi masalah rambut kering dan melembutkan rambut kasar.
• Siapkan buah alpukat dengan mayones.
• Potong bagian alpukat menjadi dua bagian,pergunakan hanya satu bagian saja.
• Ambil daging alpukat dengan menggunakan sendok dan taruh di mangkuk besar,kemudian lumatkan daging alpukat dengan blender atau tangan.
• Campurkan alpukat yang sudah hancur dengan mayones.
• Aduk hingga alpukat dengan mayones tercampur rata.krim alpukat siap digunakan untuk creambath.
Krim strawberry
Manfaat: mengatasi rambut bercabang,membuat rambut menjadi sehat,halus dan bersinar.
• Siapkan delapan buah strawberryserta mayones .Pilih buah yang masih segar dan tidak keriput
• Cuci buah strawberry,lalu buang bagian daunnya.Potong buahnya menjadi empat bagian
• Lumatkan potongan buah strawberry,bias menggunakan tangan atau blender
• Ambil satu sendok makan mayones,kemudian campurkan dengan strawberry yang telah hancur tadi
• Aduk hingga adonan strawberry dan mayones tercampur rata.krim strawberry siap digunakan untuk creambath.
Minggu, 20 Februari 2011
Tugas 2
Seberapa Pentingkah Peran Teknologi Dalam Pendidikan ?
Teknologi memang sangat penting,apalagi dalam pendidikan.Baik guru maupun murid pada saat ini pasti tidak bisa lepas dengan yang namanya laptop atau pun computer sambil bermain internet.Dalam dunia pendidikan internet sangat dibutuhkan karena cepat dan tidak perlu repot-repot membolak balik buku,serta lengkap dengan berbagai informasi yang disediakan di dalamnya.
Guru yang efektif tahu cara menggunakan computer dan cara mengajar murid untuk menggunakan computer untuk menulis dan berkreasi.Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektifitas game instruktusional dan simulasi computer,tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi melalui computer seperti internet.Dan guru yang efektif juga harus memahami dengan baik berbagai perangkat penting lainnya untuk mendukung pembelajaran murid yang cacat.
Teknologi bukan hanya untuk membantu anak-anak belajar di sekolah,tetapi juga bisa mendekatkan sekolah ke masyarakat.Murid dan orang tua dapat berkomunikasidengan guru dan staf sekolah melalui e-mail.Guru dapat memasukkan hasil belajar murid ke halaman Web.
Teknologi bukan hanya untuk membantu anak-anak belajar di sekolah,tetapi juga bisa mendekatkan sekolah ke masyarakat.Murid dan orang tua dapat berkomunikasidengan guru dan staf sekolah melalui e-mail.Guru dapat memasukkan hasil belajar murid ke halaman Web.
Referensi:
Santrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua.Kencana Prenada Media Group: Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)

